• "36 Cara Praktis Untuk Menghemat Biaya Jalan-Jalan" | TIPS BACKPACKING

    Jalan-jalan tidak perlu menghabiskan banyak uang, apalagi jika tujuannya adalah untuk mencari dan menemukan pengalaman baru. Di artikel ini terdapat 36 tips praktis untuk menghemat biaya jalan-jalan Anda, dari memantau harga tiket promo hingga menginap di bandara. PS: Backpacker memang tidak boleh banyak mengeluh! :)

    36 Cara Praktis Untuk Menghemat Biaya Jalan-Jalan
  • "10 Destinasi Wisata Favorit Sekitaran Jakarta & Jawa Barat" | REFERENSI

    Seringkali traveler yang berdomisili di sekitaran Jakarta & Jawa Barat kebingungan untuk menentukan destinasi wisata yang relatif dekat & tidak menghabiskan banyak waktu di perjalanan, apalagi untuk pekerja sibuk 9-5 yang hanya memiliki waktu kosong di akhir pekan saja. 10 pilihan destinasi wisata unik di artikel ini mungkin dapat membantu Anda untuk memutuskan destinasi Anda berikutnya.

    10 Destinasi Wisata Favorit Sekitaran Jakarta & Jawa Barat
  • "Free Download: 15 Travel eBook GRATIS" | REFERENSI & LITERATUR

    Sebagai seorang pecinta buku, saya senang sekali apabila menemukan eBook gratis yang berkualitas di internet, terutama apabila menyangkut traveling. Untuk itu saya ingin berbagi limabelas sumber Travel eBook yang berkualitas, informatif, dan tentunya GRATIS. Semoga bermanfaat! :)

    Free Download: 15 Travel eBook GRATIS
  • "Naik-Turun Kendaraan Umum di Bangkok" | CATATAN PERJALANAN

    Salah satu hal yang paling saya sukai di Bangkok, Thailand, adalah sistem transportasi publiknya yang amat bagus. Thailand sebagai negara berkembang rupanya telah mempersiapkan dirinya menjadi negara maju. Sistem transportasi publik Bangkok relatif telah terintegrasi dengan baik satu sama lain, hingga memberikan kemudahan bagi warganya untuk mencapai satu titik ke titik lain.

    Naik-Turun Kendaraan Umum di Bangkok
  • "I'm Indonesian" Project - Announced! | TRAVEL PROJECT

    Tag your favourite destinations to show Indonesian was there! Any tag with "I'm Indonesian" text are welcome. You can create your own tag using cardboard, teared paper, etc. Be creative and have fun! You can send it to us and share the joy with all Indonesian travelers. Don't forget to mention the location. We will publish the chosen photos in our website with your name as credit. Feel free to contribute! :)

    I'm Indonesian Project - Announced!
  • "7 Website Pengganti Guidebook" | REFERENSI & LITERATUR

    Anda pernah menyadari tidak? Terkadang info yang terdapat di buku panduan wisata/guidebook kurang up-to-date, maka sebagai pembanding kita memerlukan informasi yang lebih aktual mengenai tempat yang kita tuju. Website-website di artikel ini dapat membantu Anda mendapatkan info lebih mendalam mengenai tempat wisata yang Anda tuju (secara GRATIS!).

    7 Website Pengganti Guidebook
  • "Merencanakan Itinerary dengan Google Earth" | TIPS BACKPACKING

    Terkadang saat merencanakan itinerary, kita asal saja menyusun acara mengunjungi objek-objek wisata yang terkenal di kota tujuan kita, dan tidak sadar bahwa objek-objek wisata yang kita tuju berjauhan. Hal ini tentu menyebabkan waktu jalan-jalan kita terbuang sia-sia di perjalanan. Temukan cara merencanakan itinerary lebih efektif dan efisien dengan menggunakan Google Earth di artikel ini.

    Merencanakan Itinerary dengan Google Earth
  • "Daftar Negara Bebas Visa Bagi WNI" | REFERENSI & LITERATUR

    Salah satu hal yang saya dan teman-teman perhatikan saat merencanakan backpacking ke luar negeri adalah: Mencaritahu mana saja negara-negara BEBAS VISA bagi pemegang paspor Indonesia. Tujuannya? Supaya tidak ada biaya pengurusan visa, tentunya. Temukan daftar negara bebas visa bagi pemegang paspor Indonesia dalam artikel ini.

    Daftar Negara Bebas Visa Bagi WNI
  • "10 Majalah Travel Online Terbaik" | REFERENSI & LITERATUR

    Di Barat sudah banyak sekali majalah online khusus traveler yang informatif, berkualitas, dan well-designed. GRATIS pula! Simak sepuluh di antaranya pada artikel ini.

    10 Majalah Travel Online Terbaik
  • "Enak Ngga Enaknya Traveling" | TIPS BACKPACKING

    Dalam traveling seringkali tidak semua hal berlangsung lancar dan menyenangkan, namun justru inilah serunya traveling. Apakah Anda mampu mengubah perjalanan Anda menjadi tantangan? FYI, artikel ini telah menjadi salah satu artikel awal website The Backpacker's Notes.

    Enak Ngga Enaknya Traveling

Jumat, 30 Desember 2011

Travel Tweets: #ManfaatTraveling

Kemarin ada sebuah e-mail masuk di inbox saya, sebuah wawancara singkat dari sebuah majalah lokal Surabaya. Salah satu pertanyaannya adalah: "Dari jalan-jalan, manfaat apa yang paling kerasa?"

Image courtesy of Corbis Images.
Jawaban saya seperti ini:
"Kalau sedang melakukan perjalanan, pasti banyak hal baru yang saya dapat, dari perkembangan pola pikir, pengalaman-pengalaman baru, juga teman-teman baru. Manfaat yang paling terasa bagi saya sendiri? Saya merasa lebih fleksibel & adaptif terhadap rintangan apa pun, lebih berpikiran terbuka terhadap perbedaan, dan yang paling penting: saya merasa lebih bersyukur dan menikmati setiap detik dalam hidup. Life is awesomely great!"

Jawaban saya tampak terlihat terlalu berbunga-bunga dan cheesy banget ya? Seperti puisi yang dibuat oleh orang yang sedang jatuh cinta, hahaha.. Tapi yah, karena saya memang mencintai traveling, jadi rasanya wajar saja.

Awalnya sih saya agak malu untuk nge-tweet tentang pertanyaan dan jawaban berbunga-bunga saya ini, tapi whatever lah. Saya juga ingin berbagi pikiran dengan para maniak traveling lainnya via twitter dengan tagar #ManfaatTraveling. Eh ngga disangka-sangka ternyata responnya banyak juga, karena itu daripada saya RT satu-satu, rasanya lebih baik saya rangkum di sebuah blog post agar lebih "abadi". Dan memang benar, saudara-saudara, kalo udah "cinta" pasti rata-rata jawabannya berbunga-bunga semua deh! Hahaha!

Simak beberapa reply dari para travel tweeps untuk pertanyaan fenomenal tersebut:

"Dari jalan-jalan, manfaat apa yang paling kerasa?"

@citraputri_:
Dpt Pengalaman baru + refreshing!

@dinoynovita:
recharge my soul, learn to respect other culture, and off course learn to survive in a strange-land.

@FahmiFauziA:
Dpt menikmati keindahan bumi, alam semesta, sblm menuju ke alam akhirat. *Lho ko jd horror? >.<

@eviwidyaputri:
Dapet vit A utk mata & hati.

@rumahmemez:
Bahwa kita harus belajar banyak hal + bersyukur.

@ima_an:
'teman baru' sbg souvenir abadi dan priceless.

@Ntis_Yau:
Think Fast n' Open Minded tentunya :)

@NengInaaa:
Ilmu bertahan hidup!

@eurekadotdid:
Tnyata kita bisa hidup/survive hanya dgn 1 koper/ransel.

@kusumorini:
keluarga baru, mensyukuri yg kita punya, belajar u/ lbh sederhana, toleransi, berpikiran terbuka, percaya akan kebaikan org.

@christinaeka:
Belajar adaptasi, sabar dan toleransi.

@NovietaTourisia:
1) Semakin sigap dalam menghadapi hal-hal tak terduga dan di luar ekspektasi.
2) Refleksi diri - sehingga mampu membenahi kekurangan dan kelemahan diri.
3) Kian menghargai hidup, alam semesta dan esensinya :)
So... 3R. Readiness, Reflective, Respective.

@danceuu:
Pengalaman 'get lost in the middle of nowhere' nya.

@bpramodana:
Lebih cinta hidup :)

@dirhamkamp:
Feels like home.

@kudaliarr:
Nambah sodara :)

@bima_item:
Bertemu teman baru, crita baru dr perjalanan yg tak terduga..

@oengoemeloeloe:
RT @bpramodana: Lebih cinta hidup :)

@ry4nn_:
gained new experience yg pasti!

@dorry_demon:
refresh.. N blajar dunia baru.

@jatmikarico:
1) Lebih fleksibel & adaptif terhadap rintangan yang ada.
2) Lebih berpikiran terbuka terhadap perbedaan.
3) Yang paling penting, aku merasa lebih bersyukur & menikmati setiap detik dalam hidup.
4) Mengenal dan berteman dengan penduduk setempat yang belum pernah kita temui sama sekali.

+ + + + +

Tuh kan, #ManfaatTraveling tuh emang banyak banget.. Rugi kalau cuma tinggal di rumah dan nggak ke mana-mana, padahal di luar sana banyak hal menarik yang bisa kita lihat dan alami. Yuks, mari kita traveling! :)

PS. Terimakasih banyak ya buat para travel tweeps yang sudah membagikan pikirannya tentang #ManfaatTraveling. You rock! x)

Selasa, 20 Desember 2011

Nonton Bola Bareng Bonek!

Repost from Traveler in Residence.

Stadion 10 November, sore 11 Desember 2011

Jadikan perjalananmu sebagai tantangan.

Salah satu prinsip saya sebagai traveler tersebut sepertinya benar-benar terpakai untuk jadwal hari Minggu kali ini (11/12). Sampai sekarang saya masih suka heran kenapa saya kok mau-maunya diajakin nonton bola di Stadion Gelora 10 November, padahal kalau sedang iseng ikut nonton bola di tivi saja saya lebih sering ketiduran. Lapangan bola yang hijau dan white noise sorak sorai supporter seakan-akan sengaja meninabobokan saya. Mau pemainnya seganteng apa pun, rasanya tidak berpengaruh bagi saya. Ah, pokoknya kalau soal bola, saya benar-benar buta deh!

Gelora 10 November.
Foto (c) Herajeng Gustiayu, 2011
“Kamu harus ngeliat bonek, Mbak!” demikian perintah Ayos untuk program perjalanan paling ngeri dan ciamik se-Indonesia ini, Traveler in Residence (TiR). Tadinya sih saya biasa saja mendengarnya, tapi rada jiper juga saat Simbah mengatakan “Siap-siap aja, bonek itu terkenal beringas,” ketika bertugas mengantarkan saya menonton pertandingan Liga Premier Persebaya vs. Semen Padang FC.

“Bonek itu singkatan dari Bondo Nekad, yang arti bahasa Surabaya-nya: Modal Nekad,” jelas Putri saat paginya mengantar saya berkeliling Tugu Pahlawan dan kawasan Pecinan. Oke. Tidak cukup membantu menenangkan rasa deg-deg-an saya.

Bagi yang buta bola seperti saya, begini penjelasan singkatnya: Bonek itu adalah sebutan dari supporter Persebaya, tim sepakbolanya Surabaya. Mengutip penjelasan Simbah, cs-an Persebaya adalah Persib, sedangkan “musuh”-nya adalah Persija dan Arema. Warna tim Persebaya dominan hijau. Hmm, apa lagi ya.. Sementara itu dulu deh, kapasitas otak saya memang terbatas kalau soal bola, hehe..

Green Force a.k.a Bonek
Foto (c) Herajeng Gustiayu, 2011
Persebaya vs. Semen Padang.
Foto (c) Herajeng Gustiayu, 2011
Tapi sekarang saatnya menyingkirkan rasa deg-deg-an, karena tiket seharga Rp 50 ribu itu sudah ada di tangan saya. Gelora 10 November terlihat begitu ramai dan meriah dengan warna hijau ketika jam nyaris menunjukkan pukul tujuh sore, saat pertandingan dimulai. Antrian bonek-bonek berkaus dan berselendang hijau bertuliskan Viking-Sebaya-Sehidup-Semati-atau-apalah-itu tampak mengular di luar gerbang stadion. Lucunya, lama kelamaan saya kok malah ketularan rasa semangat para bonek ini. Seulas senyum pun mulai terungkit di wajah saya, dan semakin berkembang saat menyadari bahwa ini pertama kalinya saya nonton bola di stadion. Namun senyum saya meredup tatkala saya merasakan tetesan air di kepala saya, membuat saya otomatis mendongak menatap langit malam. Semoga tidak hujan, batin saya dalam hati.

Tiket disobek. Masuk gerbang. Naik tangga. Cari posisi. Sorak sorai bergemuruh. Pertandingan dibuka. Hujan deras disertai angin kencang pun tiba. Dem, umpat saya dalam hati.

Hymne Persebaya terdengar dinyanyikan secara bersemangat di tengah hujan angin yang semakin deras. “Kurang nasionalis apa lagi coba??” seru Simbah sambil tertawa-tawa. Saya membalas tertawa sambil mengamati lapangan hijau yang mulai tampak becek oleh hujan.

Seorang bapak di depan saya tampak menaungi kepala anaknya dengan jaket biru yang dibawanya. Para bonek di sekeliling saya terlihat tetap bersemangat dan euforia walaupun sekujur tubuh dan pakaian mereka kuyub oleh hujan. Jaket saya pun mulai terasa basah oleh hujan. Tas saya juga mulai terasa berat oleh rembesan air hujan. Oh, hujan.. hujan.. Nakal sekali dirimu. Saya yang saat itu juga telah basah kuyub dari atas sampai bawah hanya menatap hampa ke arah lapangan, mencoba berkonsentrasi, dan sesekali ikut berseru saat bola nyaris masuk ke gawang lawan. Duh, kaga ngerti ah ane..

Sayangnya semangat saya tidak selevel dengan para bonek ini. Begitu babak 1 berakhir dengan kedudukan sementara 0-1 antara Persebaya terhadap Semen Padang FC, saya menyerah. Saya memilih untuk tidak melanjutkan menonton karena tidak tahan oleh tiupan angin kencang disertai terpaan hujan yang cukup membuat menggigil. Cemen sekali ya saya, huahaha..

Pokoknya jadwal TiR hari Minggu ini benar-benar sangat berkesan bagi saya. Tantangan banget lah pokoknya. Patut dicoba kalau lagi bertandang ke Surabaya! Terimakasih juga buat Simbah yang telah mengantarkan dan “mengamankan” saya saat menonton pertandingan bola kemarin. Dari postur aja udah keliatan serem sih, jadi kalo ada yang mau macem-macem juga mikir dua kali nih kayanya, hehe..

Dan yang paling penting, ternyata bonek tidak semenakutkan seperti anggapan saya sebelumnya. Beberapa kali saya ikut tertawa mendengar banyolan beberapa orang bonek dengan pedagang yang hilir mudik di tengah hujan. Intinya sih, bonek sebenarnya cuma supporter biasa yang fanatik terhadap Persebaya, selama fanatisme tidak merugikan sekitar ya saya mah tidak ada masalah, hehe.. Oh ya, saran saya: bawalah ponco saat menonton bola di musim hujan. Sedia ponco sebelum hujan. Yeah!

* * * * *

Senin, 19 Desember 2011

Mengejar "Kreco" di TP5

Repost from Traveler in Residence.

Tugu Pahlawan, pagi 11 Desember 2011

“Eh, aku mau itu, Mbak!” seru Putri sambil menunjuk dorongan pedagang kaki lima berisi potongan mangga dingin dan segar. Saat itu kami masih berada di atas sepeda motor Putri yang bernama Bonita, sedang berusaha mencari tempat parkir yang dekat dengan pintu masuk Monumen Tugu Pahlawan. Cuaca Minggu pagi itu masih tampak bersahabat dengan awan mendung menggantung. Di sekitaran area luar Tugu Pahlawan, yang juga terkenal dengan plesetan TP5 (Tunjungan Plaza 5), tampak penuh dengan berbagai macam pedagang kaki lima dan pengunjung yang sedang berwisata ke tempat ini.

Mata saya sekilas menangkap ada dorongan pedagang bertuliskan "Kreco" di samping pedagang mangga. Aha! Baru kemarin saya membaca tentang cemilan kaki lima berbahan baku sejenis bekicot atau siput yang dibumbui bernama Kreco. Saya pun langsung berniat untuk mencoba makanan yang terdengar unik ini sehabis mengunjungi Tugu Pahlawan.

“Aku belum pernah masuk ke dalem (Tugu Pahlawan) lho,” jelas Putri yang sudah tinggal selama 7 tahun di Surabaya. Hmm, mungkin sama seperti saya yang belum pernah naik ke puncak Gedung Sate di Bandung, padahal saya sempat tinggal beberapa tahun di Kota Bunga tersebut.

Monumen Tugu Pahlawan
Foto (c) Herajeng Gustiayu, 2011
Patung Soekarno-Hatta di depan Tugu Pahlawan.
Foto (c) Herajeng Gustiayu, 2011
Setelah membayar tiket masuk dan masuk ke dalam, kami pun berspekulasi tentang pilar-pilar di belakang patung Soekarno-Hatta. Putri bertanya-tanya apakah pilar-pilar yang bertuliskan seruan-seruan “Merdeka ataoe Mati!” dan “Allied forces go away!” itu asli apa bukan. (Jawaban untuk saat ini: pilar-pilar itu sepertinya cuma replika dari pilar gedung Raad van Justitie yang digunakan sebagai markas tentara Jepang yang dibakar dan dihancurkan oleh pejuang Surabaya pada pertempuran 10 November dan kini lokasinya menjadi area Tugu Pahlawan, CMIIW)

Memasuki Museum 10 November, saya seakan-akan diingatkan kembali tentang pelajaran sejarah saat SD. Sejarah perebutan dan pertahanan kemerdekaan Indonesia di otak saya yang terbolak-balik terasa disegarkan kembali. Beginilah kalau belajar sejarah hanya menghafal dan tidak dipahami, gampang lupanya!

Fokus aja ke patung, tulisan "Merdeka
atau Mati", dan benderanya yaa.. Jangan
hiraukan objek lainnya.

Foto (c) Herajeng Gustiayu, 2011
Saat menatap patung pejuang kemerdekaan yang mengacungkan senjata dan tampak berseru ke arah bendera merah putih di bagian tengah museum, saya tiba-tiba merasa malu sendiri. Mereka sudah susah-susah merebut dan mempertahankan kemerdekaan dari para penjajah, sampai saat ini saya sudah berbuat apa saja ya untuk bangsa sendiri? Menularkan virus traveling itu termasuk apa ngga ya? Hehe..

Setelah puas berkeliling dan membaca sejarah pertempuran 10 November serta sejarah pendirian bangunan museum ini, kami pun hunting potongan mangga dan Kreco. Mengingat cuaca di luar yang semakin terik, rupanya banyak pedagang yang telah membereskan jualannya dan pulang, termasuk pedagang mangga dan Kreco. Kami pun berdesah kecewa ... sampai tiba-tiba Putri berseru, “Mbak, itu ada Kreco!” sambil menunjuk ibu-ibu yang mendorong gerobak bertulisan Kreco Rp 5000 / Sate Kul Rp 1000.

“Ayo hadang dia Put!” seru saya berkelakar. Putri tertawa dan mengejar si ibu-ibu. Ah ternyata Kreco-nya sudah habis, tinggal Sate Kul. Bahan dasarnya sih sama, sejenis keong-keongan, bedanya kalau Kreco pakai kuah, Sate Kul ya keong bumbu yang disate, demikian penjelasan si ibu-ibu itu. Kami langsung membeli lima tusuk.

Kreco abis, Sate Kul pun jadi.
Foto (c) Herajeng Gustiayu, 2011
Sate Kul, satu tusuk Rp 1000.
Foto (c) Herajeng Gustiayu, 2011
Begitu kunyahan pertama tertelan, kami hanya terdiam. Dagingnya terasa agak alot, mirip dengan tektur kerang, bumbu rempahnya terasa kuat di lidah dengan sedikit rasa pahit. “Hmm, rasanya aneh,” Putri pun memutuskan untuk menyimpan Sate Kul-nya untuk lain kesempatan. Saya habis satu tusuk dan tidak tertarik untuk melanjutkan tusuk kedua.

“Kita sisain yuk buat anak-anak c2o,” saran saya jenius. Putri hanya tertawa lepas, entah apa yang ada di pikirannya saat itu.

* * * * *

Sabtu, 17 Desember 2011

House of Sampoerna, Berawal dari Sebuah Warung Bambu

Repost from Traveler in Residence.

House of Sampoerna, 6-7 Desember 2011

Bagian dalam Museum House of Sampoerna.
Foto (c) Herajeng Gustiayu, 2011
Bagian dalam Museum House of Sampoerna.
Foto (c) Herajeng Gustiayu, 2011 
Bangunan di depan saya ini membuat saya kagum saat pertama kali melihatnya. Begitu memasuki pelataran depan, suasana asri dengan tanaman hijau dan pepohonan rendah langsung menyambut kami. Sekumpulan bangunan lama namun terawat itu memilliki langgam arsitektur bergaya art deco (mudah-mudahan otak arsitek saya masih berfungsi dengan benar) dan sempat berfungsi sebagai rumah. Kini bangunan ini difungsikan sebagai museum yang berisikan dokumentasi sejarah keluarga dan bisnis perusahaan rokok besar Sampoerna. “House of Sampoerna”, keren juga nih museum, pikir saya.

Sejarah Sampoerna mulai terbayang saat saya membaca sebuah plakat informasi di depan replika sebuah warung bambu di dalam museum. Di sana dijelaskan bahwa cikal bakal perusahaan rokok terbesar di Jawa Timur ini berawal dari datangnya keluarga Seng Tee dari desa Anxi di Cina ke Surabaya. Setelah Seng Tee menikah dan mempunyai cukup tabungan, ia dan istrinya menyewa sebuah warung kecil di Surabaya yang menjual kebutuhan pokok dan tembakau. Selain berjualan di warung, Seng Tee juga berkeliling berjualan tembakau dengan sepedanya. Namun justru dari warung kecil inilah, sejarah Kelompok Perusahaan Sampoerna dimulai.

 
Warung Bambu, cikal bakal Kelompok Perusahaan Sampoerna.
Foto (c) Herajeng Gustiayu, 2011
Saat ini sudah dua kali saya datang ke House of Sampoerna (HoS) dan masih tertarik untuk mengunjungi museum unik ini di lain waktu. Kunjungan pertama bersama Putri hanya berselang sehari sebelumnya, namun saat itu kami hanya melihat-lihat bagian dalam museum dan pameran foto yang sering diadakan di paviliun barat (atau timur? Lupa..) Uniknya, di dalam museum ini juga terdapat pabrik yang lengkap dengan pekerja-pekerja yang sedang melinting dan mengemas rokok dengan kecepatan yang luar biasa, nyaris seperti mesin. Rupanya, dulu pendiri Sampoerna memiliki konsep untuk mendekatkan rumah dan pabrik di satu tempat, hal ini bertujuan agar mereka dapat dengan mudah mengontrol pabriknya. Hebat ya!

Eeh, ada si Putri...
Foto (c) Herajeng Gustiayu, 2011

“Put, mereka ini aktor apa beneran pekerjanya sih?” tanya saya tercengang saat menjejakkan kaki di lantai dua museum. Terlihat beberapa pekerja wanita yang sedang melinting rokok dengan cekatan, kami hanya dipisahkan oleh sebuah dinding kaca di sebelah kiri saya. “Kayanya beneran deh, Mbak,” jawab Putri sopan, tapi saya yakin dia heran dengan pertanyaan saya yang agak aneh itu. Beberapa langkah ke depan, saya kembali dikejutkan oleh pemandangan ratusan pekerja yang berada satu lantai bawah kami. Mezanin dengan batas dinding kaca lagi-lagi memisahkan area para pengunjung dan pekerja-pekerja tersebut. Saya meraih kamera saya, tapi sebelum saya sempat menekan tombol, seorang petugas wanita langsung mencegah saya mengambil gambar. Hehe, saya lupa di lantai dua yang sekaligus tempat belanja oleh-oleh itu tidak diperbolehkan mengambil foto maupun video tanpa ijin. Maaf ya, Mbak.. Saking kagumnya, saya jadi lupa peraturannya dee..

Bus Surabaya Heritage Track.
Foto (c) Herajeng Gustiayu, 2011
Sebenarnya hari itu jadwal kami adalah ikut tur yang rutin diadakan oleh HoS, tapi kami telat datang sehingga baru akan ikut untuk jadwal besoknya. Menariknya, tur ini gratis! Kita bisa mendaftarkan diri sesuai dengan jadwal yang kita inginkan, biasanya tur akan dimulai pada pukul 09.00, 13.00, dan 15.00 dengan rute yang berbeda-beda. Special Theme untuk bulan Desember ini adalah mengunjungi pabrik-pabrik tua di Surabaya, antara lain Pabrik Limun (Sirup) "Siropen Telasih", Pabrik Kecap "Cap Jeruk Pecel Tulen", dan Pabrik Misua "Marga Mulya". Dalam tur ini kita akan diajak berkeliling dengan bus khusus berwarna merah menyala dan luar biasa keren, menurut saya. Bus ini mengingatkan saya akan bus pariwisata di Penang yang juga secara cuma-cuma mengantarkan turis berkeliling kota tua tersebut. Kualitasnya sudah cukup nginternasional deh, pokoknya. Very recommended!

* * * * *

Kamis, 15 Desember 2011

Tentang Tilang dan Perpustakaan

Repost from Traveler in Residence.
Edited by Dwi Putri Ratnasari, Kepala Program Traveler in Residence.

C2O library, 8 Desember 2011

Wah, sejuta terimakasih saya ucapkan untuk Ayos, salah satu pencetus program Traveler in Residence (TiR) yang sedang saya ikuti saat ini. Ini adalah tilang pertama saya saat berada di Surabaya. Ngga tanggung-tanggung, dua sekaligus! Salah satunya karena Ayos dianggap melanggar lampu merah, yang sampai saat ini tidak diterima oleh Ayos karena dia yakin lampu jalan masih kuning saat motornya melintas. Yang kedua? Begini ceritanya...

“Masih kuning, Pak!” teriak Ayos di depan wajah Pak Polisi.

“Sudah merah!” sanggah Pak Polisi ngga kalah sadis.

“Kuning!”

“Merah!!!”

“Kuning!! Saya tahu di jalan ini banyak polisi, ngga mungkin saya nerobos lampu merah! Kalau saya ditilang gara-gara ngga punya spion kanan, saya bisa terima, Pak!”

“Oh, kamu ngga punya spion juga??” Pak Polisi lantas melirik motor Ayos dengan tatapan lapar. “Oke, kalau begitu kamu saya tilang dua kali!”

Hm. Argumen Ayos tampaknya agak bersifat bunuh diri ya. Kebo, motor Ayos yang berwarna hitam ini memang cacat fisik tapi kesetiaannya tak dapat diragukan, ia kerap menemani Ayos di kala susah dan senang. Termasuk menjelang sidang tilang tanggal 16 besok. Well, good luck for you both…

Setelah mengurus surat tilang sambil agak menggerutu, kami pun segera bergegas ke c2o library di Jalan Dr. Cipto 20, yang juga turut bekerjasama dengan Hifatlobrain Travel Institute dalam menggarap program TiR. c2o library ini sendiri adalah sebuah perpustakaan komunitas yang sangat menarik bagi saya, terutama karena saya suka buku, hobi yang sempat agak terabaikan karena akhir-akhir ini saya lebih akrab dengan internet. Kalau di Surabaya ada c2o, Bandung punya Reading Lights, Jakarta kira-kira punya perpustakaan sejenis ini tidak ya?

Di pojok belakang perpustakaan c2o ini saya menemukan buku The Graveyard Book karangan Neil Gaiman yang saya cari-cari. Koleksi buku Roald Dahl juga cukup lengkap. Ya, saya memang penggemar buku anak-anak, terutama yang alur ceritanya kreatif dan tidak lazim.

Nyaman sekali berada di sini. Suasananya tenang, berada di dalam perumahan yang jarang dilewati kendaraan, banyak pepohonan, enak untuk menghabiskan waktu sambil berkonsentrasi membaca. Tempat favorit saya untuk membaca adalah duduk di teras luar, asal cuaca sedang cerah. Mbak Yuli yang setia menjaga perpustakaan ini juga siap untuk ditanya-tanya tentang buku dan film yang tersedia di dalam c2o library. Kalau tiba-tiba haus, c2o menyediakan beragam minuman dingin atau seduhan teh dengan berbagai rasa.

Yang bikin saya penasaran sih, kata Mbak Yuli, di depan c2o ini sering lewat penjual Semanggi. Semanggi? Yap, makanan khas Surabaya yang berbahan dasar daun semanggi, jelas Ayos kepada saya. Bentuknya seperti apa juga saya belum tahu. Baiklah, Semanggi resmi saya catat sebagai salah satu kuliner yang harus saya coba saat berada di Surabaya.

*Eh? Foto? Iya, lupa moto..
Coba cek http://www.facebook.com/c2o.library kalo penasaran gimana bentuk salah satu perpustakaan favorit saya ini.. :)

* * * * *

Related Posts with Thumbnails
 
Copyright 2010 - now The Backpacker's Notes. Powered by Blogger Blogger Templates create by Deluxe Templates | developed by jenqidoodle studio | WP by Masterplan